Pemprov Dki Suntikkan Vaksin Astrazeneca Ke 28 000 Orang, Tak Ada Laporan Efek Samping Serius

Apabila keluhan berlanjut, disarankan kepada peserta vaksinasi untuk segera menghubungi petugas kesehatan atau ke fasilitaspelayanan kesehatan . Metode ini sudah sering dipakai dalam pengembangan vaksin lain seperti vaksin polio dan flu. Namun, Nadia menegaskan, kedua vaksin tersebut sudah teruji dan aman digunakan untuk manusia. Nadia membenarkan virus tersebut membawa sebagian materi dari virus Corona yaitu protein spike. Sedangkan vaksin Covid-19 Sinovac menggunakan platform inactivated virus atau virus utuh yang sudah dimatikan. “Bila ada gejala ke arah Covid-19, tentu saja harus diperiksa, namun saat ini demam berdarah sedang mewabah jadi perlu juga diperiksa,” ujar Hinky.

Ini kemungkinan karena reaksi dari virus yang masuk ke tubuh, yang kemudian menghasilkan respons inflamasi dan antibodi yang diperlukan. Jumlah kasus pembekuan darah yang dilaporkan juga jauh lebih rendah dibandingkan dengan rata-rata yang terjadi dalam jumlah populasi tersebut. Dia mengatakan dari kalangan penerima vaksin itu terdapat 15 kasus deep vein thrombosis dan 22 kasus pulmonary embolism telah dilaporkan. Menurut Penny, efikasi vaksin AstraZeneca dengan dua dosis standar yang dihitung sejak 15 hari pemberian dosis kedua hingga pemantauan sekitar dua bulan menunjukkan efikasi sebesar 62,10 peren. Hasil ini sesuai dengan persyaratan efikasi untuk penerimaan emergensi yang ditetapkan WHO, yakni minimal efikasi 50 persen. Khawatir akan efek samping penggunaan Vaksin Astrazeneca, dua dinas kesehatan di Gorontalo ajukan penolakan.

Seseorang juga sering melaporkan rasa sakit dan iritasi di tempat suntikan vaksin. Selain itu, reaksi alergi terhadap bahan tertentu dalam vaksin juga dapat terjadi. “Biasanya efek samping dari vaksinasi ini muncul 1-2 hari dan menghilang tanpa/dengan pengobatan,” lanjut dia. Dikutip dari sehatnegeriku.kemkes.go.id, tidak semua batch vaksin AstraZeneca dihentikan distribusi dan penggunaannya.

Efek samping dari vaksin Astrazeneca

Vaksin ini merupakan hasil kerja sama antara Universitas Oxford dan AstraZeneca yang dikembangkan sejak Februari 2020.

Lalu, dibawa ke rumah sakit dan dinyatakan meninggal sekitar pukul 12.30 WIB, seperti mengutip laman SehatNegeriku. Pemerintah menemukan kejadian ikutan pasca imunisasi dalam pemberian COVID-19 buatan AstraZeneca masih tergolong ringan. Kasus yang terjadi di Ambon, penerima vaksin ternyata sudah terinfeksi Covid-19 terlebih dahulu. Sementara itu, untuk yang di Jakarta penerima diketahui memiliki komorbid radang paru-paru atau pneumonia dan meninggal dunia empat hari setelah melaporkan keluhannya ke Puskesmas atau lima hari berselang setelah menerima vaksin. Jika mengalami demam tinggi yang berlangsung selama lebih dari dua atau tiga hari, atau mengalami gejala lain secara terus-menerus, itu mungkin bukan karena efek samping vaksin. Jakarta – Dokter spesialis pulmonologi dan kedokteran respirasi RSUP Persahabatan, Dr. dr. Erlina Burhan, menuturkan semua obat termasuk vaksin COVID-19 dari AstraZeneca bisa menyebabkan efek samping meskipun tidak semua orang mengalaminya.

“Apa yang kami coba lakukan adalah memberikan semua informasi yang tersedia baik manfaat maupun risikonya,” ujarnya. Hendra mengatakan hampir semua penerima vaksin yang mengalami KIPI sudah sembuh saat pihaknya melakukan audit. Untuk itu, pemerintah akan melanjutkan program vaksinasi COVID-19 dengan AstraZeneca karena vaksin tersebut dinilai lebih besar manfaatnya daripada risikonya. Sementara itu, Juru Bicara Vaksinasi Covid-19 Tingkat Pusat dan Duta Adaptasi Kebiasaan Baru dr Reisa Broto Asmoro mengimbau masyarakat untuk tidak memilih-milih jenis vaksin yang akan diterima. Dia menegaskan bahwa seluruh vaksin yang tersedia di Indonesia saat ini telah melalui sejumlah tahapan untuk memastikan keamanan, mutu, dan khasiatnya. Setali tiga uang, Rahma, seorang pekerja swasta di Jakarta memutuskan untuk menunda vaksinasi terhadap orangtuanya yang sudah berusia lanjut.