Meski Haram, Berikut 5 Alasan Mui Bolehkan Penggunaan Vaksin Covid

Meski banyak negara lain yang meminta pengakuan sertifikasi, Indonesia disebutnya masih hanya menjadi konsumen produk-produk halal tersebut. Wakil Presiden Ma’ruf Amin lantas menjelaskan bahwa sertifikasi halal dapat dikembangkan salah satunya dengan cara memberikan pelayanan satu atap yang terintegrasi. Sedangkan dosis vaksin yang tersisa bakal digunakan untuk menyasar golongan petugas pelayanan umum.

Kelima, pemerintah tidak memiliki keleluasaan memilih jenis vaksin Covid-19 mengingat keterbatasan vaksin yang tersedia. Sementara, Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama Jawa Timur menyatakan vaksin AstraZeneca hukumnya halal. Alasannya, PWNU Jatim menilai, tripsin yang merupakan enzim babi hanya digunakan sebagai katalis untuk pengembangbiakan Virus Corona.

Sebagaimana diketahui, jika target vaksinasi tidak tercapai dan banyak orang di dunia tidak mendapatkan vaksinasi Covid-19, maka pandemi ini bisa berumur panjang, akibat transmisi yang terus terjadi di masyarakat. Vaksin Covid-19 yang dikembangkan Oxford University dan AstraZeneca untuk melawan infeksi virus corona. Diketahui bahwa vaksin COVID-19 mengandung virus yang sudah dimatikan serta tidak mengandung bahan berbahaya, seperti boraks, formalin, merkuri, dan pengawet. Setelah mengkaji lebih dalam, MUI memastikan bahwa bahan baku dan cara pembuatan vaksin COVID-19 dari produsen tersebut menggunakan bahan-bahan yang aman dan halal.

Apakah vaksin covid halal

“Ada juga yang proaktif mendatangi rumah lansia yang memiliki keterbatasan. Sehingga mereka tetap terlayani dengan baik dan mendapatkan haknya,” katanya. Liputan6.com, Banyuwangi – Dinas Kesehatan Banyuwangi menargetkan 150 ribu lansia sudah divaksinasi pada akhir Juni mendatang. “Semangat terus, kembangkan terus kinerja kita, bahu membahu mengatasi pandemi Covid-19, saya memiliki keyakinan dengan semangat bahu membahu kita mampu bangkit dari pandemi Covid-19,” pungkasnya.

Dengan demikian, vaksin virus corona Sinovac telah mendapat izin untuk digunakan dalam vaksinasi. CoronaVac atau Sinovac merupakan vaksin yang dikembangkan oleh perusahaan Tiongkok Sinovac. Sinovac merupakan vaksin virus corona pertama yang masuk dan mendapatkan izin penggunaan darurat Badan POM Indonesia.

Majelis Ulama Indonesia , Jumat (8/1), mengeluarkan fatwa terkait penggunaan vaksin Covid-19 asal China, Sinovac. Hal yang paling meresahkan masyarakat menurut Ustadz Nanung adalah hoax mengenai kehalalan vaksin Covid-19. Komisi Fatwa MUI Pusat sendiri sudah memberikan fatwa vaksin Sinovac halal dan suci. Sehingga masyarakat tidak harus ragu dan khawatir pada vaksin Sinovac yang dibuat negara China ini. Banyak negara lain seperti Singapura, Chili, Filipina, Turki, dan Brasil yang juga memesan vaksin Sinovac.

Untuk tenaga pendidik apabila hasilnya baik dan sesuai harapan maka proses belajar mengajar tatap muka akan segera dilakukan,” ujar Bupati Herdiat. Logikanya, bila sesuatu yang jelas-jelas haram jadi halal dalam situasi darurat, sesuatu yang belum jelas haramnya semestinya otomatis halal dalam situasi serupa. Vaksin covid-19, misalnya, yang belum diketahui haramnya, semestinya otomatis halal karena kita berada dalam situasi darurat pandemi covid-19. Adagium keselamatan rakyat hukum tertinggi kita baca dan dengar selama pandemi covid-19 melanda dunia. PRFMNEWS – Kajian halal vaksin Covid-19 Sinovac telah selesai dilakukan Majelis Ulama Indonesia . Saat ini pemerintah tengah menunggu keluarnya fatwa keagamaan vaksin tersebut.

Justru banyak negara non-muslim yang mengembangkan vaksin seperti Amerika Serikat, Israel, Kanda, Inggris, Belanda, dan Australia. Negara Israel merupakan salah satu negara yang pertama yang akan bebas dari Covid-19 karena cakupan vaksin yang sangat tinggi. Masyarakat memiliki persepsi berbeda atas vaksinasi, namun seiring waktu terlihat bahwa respons penerimaan masyarakat semakin tinggi. “Padahal semua produk yang menggunakan vaksin, termasuk Sinovac, juga pakai tripsin, enzim yang dicurigai dari babi. Tidak apa-apa mau dari babi, musang, itu awal sekali, bukan pembuatan vaksinnya.

Dewan Fatwa Uni Emirat Arab mengeluarkan keputusan yang mengizinkan Muslim untuk menerima vaksin virus corona (Covid-19) meski itu mengandung bahan non-halal seperti gelatin babi. Izin penggunaan darurat vaksin virus corona ini diberikan setelah BPOM mengkaji hasil uji klinis tahap III vaskin yang dilakukan di Bandung. Selain itu, BPOM juga mengkaji hasil uji klinis vaksin virus corona Sinovac yang dilakukan di Turki dan Brasil. Tiga vaksin virus corona sudah mendapatkan izin dari Badan Pengawas Obat dan Makanan dan sertifikasi halal dari Majelis Ulama Indonesia . Selain mempertanyakan keefektifannya, sebagian orang juga masih meragukan kehalalan vaksin tersebut. Nah, sekarang kamu tidak perlu khawatir lagi, karena sertifikasi halal vaksin COVID-19 sudah diterbitkan oleh MUI.

Karena itu, dalam fatwanya, MUI juga meminta kepada pemerintah untuk mengupayakan vaksin yang halal bagi masyarakat muslim. Dengan adanya kajian AstraZeneca seperti tersebut diatas, maka dapat disimpulkan bahwa berdasarkan fatwa MUI penggunaan bahan asal babi pada tahap proses produksi manapun tidak diperbolehkan. Laporan hasil kajian langsung diserahkan ke Komisi Fatwa MUI untuk ditetapkan status halal-haramnya. Selanjutnya, fatwa utuh penggunaannya menanti hasil kajian dari Badan POM terkait dengan keamanan vaksin.