Disebut Mengandung Babi, Nyatanya Vaksin Astrazeneca Hanya Mengandung Tripsin Enzim Menyerupai Jamur

Kelompok ketiga ini sudah ada sejak lama dan mendapat tambahan dukungan dari sebagian orang yang kecewa dengan Pilpres yang menolak secara emosional kebijakan apapun yang datang dari pemerintahan Jokowi, baik ataupun buruk. Kelompok ketiga ini saat ini semakin vokal dan keras suaranya dikarenakan adanya media social sehingga dengan leluasa mereka bisa memproduksi dan men-share berita hoax, information menyesatkan tentang vaksinasi ke tengah masyarakat. Hoax yang secara terus menerus dibombardir di media sosial dan media oposisi lama kelamaan dapat dianggap sebuah kebenaran oleh masyarakat yang awam. Inilah tantangan paling rumit yang dihadapi pemerintah untuk mencapai target vaksinasi sebesar 70%. Sehingga, kata Muti, MUI masih memperbolehkan penggunaan bahan yang tergolong najis seperti darah ataupun enzim tripsin yang berasal dari bahan najis. Namun tentunya bahan-bahan tersebut wajib disucikan dengan proses netralisasi atau purifikasi.

Tapi vaksin yang ada, kata Gus Yaqut sudah dilakukan penyucian secara syari atau tahir syari. Saat mereka berada di China pada musim gugur, para ulama Indonesia memeriksa fasilitas Sinovac Biotech China, dan uji klinis yang melibatkan sekitar 1.620 relawan juga sedang dilakukan di Indonesia untuk mendapatkan vaksin perusahaan. Pemerintah telah mengumumkan beberapa kesepakatan pengadaan vaksin Covid-19 dengan perusahaan sejumlah jutaan dosis. Sementra, juru bicara Pfizer, Moderna dan AstraZeneca mengatakan bahwa vaksin Covid-19 buatan mereka tidak mengandung produk daging babi. Harianjogja.com, JAKARTA – PT Bio Farma telah mendapatkan surat pernyataan dari Sinovac Biotech Ltd. bahwa vaksin yang diproduksi tidak mengandung gelatin babi.

“Maka industri vaksin beralih ke tripsin rekombinan di mana produksinya menggunakan sel kapang atau bakteri sehingga mudah untuk dikontrol tingkat kemurnian. Nah trypsin seperti ini yang digunakan,” jelas Ahmad. Konten cek fakta ini kerja sama Katadata dengan Google News Initiative untuk memerangi hoaks dan misinformasi vaksinasi Covid-19 di seluruh dunia. Belum ada vaksin malaria yang diizinkan untuk digunakan, meski gagasan untuk mengendalikan malaria melalui vaksinasi sudah ada sejak lama. Namun, belajar dari rumah yang tidak efektif selama pandemi bisa hapus peluang mendapatkan manfaat bonus demografi tersebut. Layanan Wi-Fi gratis mendorong warga lebih sering berinteraksi dengan pengumpul information digital di internet.

Ketersediaan vaksin yang suci dan halal sangat terbatas dan tidak mencukupi. Untuk diketahui, protein spike yang berbentuk paku di permukaan virus corona merupakan pintu masuk virus menginfeksi sel manusia melalui ACE2. Sebelumnya, Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan COVID-19, Wiku Adisasmito mengatakan pemerintah berupaya dalam memastikan kehalalan vaksin COVID-19 yang dipakai. Untuk mengetahui kehalalan dari vaksin COVID-19 dari Sinovac, Wiku mengatakan bahwa tim dari Majelis Ulama Indonesia beserta Badan Pengawas Obat dan Makanan juga Bio Farma melakukan pengecekan langsung produksi vaksin di China. Setelah disuntikkan ke dalam tubuh, virus yang sudah dimatikan itu akan memicu sel imunitas bernama Antigen-presenting cell . Sel tersebut kemudian merobek badan virus corona yang sudah mati dibantu dengan sel T sebagai pendeteksi fragmen virus.

Vaksin Sinovac babi

Juru Bicara Vaksin COVID-19 PT Bio Farma, Bambang Herianto menyatakan, vaksin tersebut tidak mengandung sel vero atau yang jaringan sel yang diambil dari ginjal kera hijau asal Afrika. “Sampai saat ini kami masih melakukan progres uji klinis 1.620 relawan untuk uji klinis tahap 3. Semua berjalan lancar tidak ada indikasi yang menunjukkan kejadian serius, Rencananya minggu pertama Januari 2021 kami memberikan interim report untuk mendapatkan EUA dari BPOM. Kita targetkan awal Februari bisa diberikan vaksin massal,” kata Direktur Utama Bio Farma Honesti Basyir, dilansir CNBC Indonesia Rabu 25 November 2020.

AstraZeneca menyebutkan vaksin Covid-19 produksi mereka tidak mengandung babi. Hal itu sudah dikonfirmasi Badan Otoritas Produk Obat dan Kesehatan Inggris. AstraZeneca mengatakan bahwa vaksin COVID-19 mereka merupakan vaksin vektor virus yang tidak mengandung produk dari hewan, dan telah dikonfirmasi oleh Badan Otoritas Produk Obat dan Kesehatan Inggris. Ketiga bersentuhan dengan najis mutawasitah sehingga dihukumi mutanajis, tetapi sudah dilakukan penyucian secara syar’i atau ta’hir syar’i,” katanya.