Dinyatakan Halal Meski Mengandung Babi, Vaksin Astrazeneca Tetap Disalurkan Di Kaltim

Enzim akan dimurnikan kembali sehingga komponen perantara tidak ikut masuk pada vaksin. Ketika dalam proses pembuatannya bersinggungan dengan enzim dari babi, pada produksi akhirnya hanya virus yang masuk dalam vaksin. Supaya tidak overcrowded sel inang perlu dipisahkan dengan enzim tripsin, di mana sumber tripsin yang handal berasal dari babi. Penelitian vaksin AstraZeneca yang beberapa waktu lalu tengah didalami Majelis Ulama Indonesia menunjukan hasil yang mengejutka. MUI memastikan bahwa vaksin covid-19 AstraZeneca mengandung babi dan dipastikan haram. Selanjutnya, Majelis Ulama Indonesia menyatakan Vaksin AstraZeneca mengandung tripsin babi alias haram, namun atas nama kedaruratan tetap bisa digunakan di Indonesia.

Wali Kota Balikpapan Rizal Effendi mengatakan bahwa vaksin AstraZeneca untuk Kaltim dijadwalkan tiba pada Jumat, 26 Maret 2021. Yang jelas, para petugas keamanan akan menjadi kelompok prioritas penerima AstraZeneca. Ini dilakukan untuk mempercepat pemulihan kondisi seperti sebelum adanya pandemi Covid-19.

Pernyataan itu kemudian dibalas pihak AstraZeneca dengan menyatakan vaksin mereka tidak mengandung babi. Namun, sebagaimana dilansir dari Kantor Berita Reuters, Minggu, 21 Maret 2021, MUI tetap menyetujui penggunaan vaksin AstraZeneca karena dalam situasi darurat pandemi. “Kemarin saya juga sudah konfirmasi ulang ke pihak AstraZeneca, dan ternyata mereka tidak melibatkan tripsin dalam proses pemisahan. Untuk itu, dalam produk akhir vaksin Covid-19 AstraZeneca sudah tidak ada unsur babi sama sekali. Atoillah mengkiaskan pada proses menanam pohon, menggunakan pupuk kandang yang kandungannya termasuk najis, tetapi ketika menghasilkan buah, maka buah tidak lantas menjadi najis juga.

“Apabila efek samping yang ditimbulkan dari vaksinasi ini cukup besar, maka vaksin itu menjadi haram. Misal, setelah divaksinasi akan menyebabkan kanker. Itu tidak boleh,” tukasnya. Dia menambahkan terdapat lima kaidah yang menjadi pertimbangan dalam menentukan halal dan haram suatu vaksin. “Saya kira kalau poin yang ini kurang cocok untuk diimplementasikan dalam vaksin. Selama itu tidak melanggar akidah intinya, boleh,” jelas Epidemiolog yang juga memiliki pemahaman mendalam mengenai agama Islam ini. Fasilitas Kampus Al Azhar Sragen hingga potret wanita Aceh yang wajahnya kerap dijadikan meme di bak truk masuk daftar 10 berita terpopuler Solopos.com pagi ini. Asrorun menjelaskan, dengan ini berarti fatwa MUI menyatakan vaksin AstraZeneca haram.

Keempat, ada jaminan keamanan penggunanya oleh pemerintah sesuai dengan penjelasan yang disampaikan pada saat rapat komisi fatwa. Alasan terakhir, pemerintah tidak memiliki keleluasan memilih jenis vaksin Covid-19 mengingat keterbatasan vaksin yang tersedia baik di Indonesia maupun tingkat global. Berdasarkan hasil kajian yang dilakukan Lembaga Pengkajian Pangan, Obat-obatan dan Kosmetika Majelis Ulama Indonesia , ditemukan unsur babi dalam proses pembuatan vaksin COVID-19 AstraZeneca. LPPOM MUI, ujar Muti, mengirimkan dua orang Lead Auditor Bidang Obat dan Vaksin dengan bidang keahlian Biopreses Engineering dan Industrial Microbiolog. Setelah mereka melakukan kajian bahan dan proses pembuatan vaksin dari dossier di BPOM, mereka kemudian melakukan kajian dari publikasi ilmiah.

Vaksin Astrazeneca babi

Kelima, pemerintah tidak memiliki keleluasaan memilih jenis vaksin Covid-19 mengingat keterbatasan vaksin yang tersedia baik di Indonesia maupun di tingkat international. FAJAR.CO.ID — Produsen Vaksin Covid-19 AstraZeneca membantah dan melakukan klarifikasi atas pernyataan Majelis Ulama Indonesia yang mengungkapkan tahapan produksi vaksin menggunakan enzim babi. Harianjogja.com, JAKARTA – Majelis Ulama Indonesia membolehkan penggunaan vaksin buatan AstraZeneca produksi Korea Selatan meski mengandung babi. MUI memang telah memberikan izin penggunaan darurat vaksin AstraZeneca untuk saat ini.

Namun untuk dapat memahaminya, Anda perlu mengetahui bagaimana proses vaksin Covid-19 AstraZeneca atau AZD 1222 ini diproduksi. Dengan catatan tersebut, MUI pun menyatakan vaksin Covid-19 AstraZeneca haram, tetapi boleh digunakan. KOMPAS.com – Beredar unggahan di media sosial berisi foto dokumen berkop Lembaga Pengkajian Pangan, Obat-obatan dan Kosmetika Majelis Ulama Indonesia . Selanjutnya, kuman akan dikembangbiakan dan bagian polisakaridanya diambil sebagai antigen yang digunakan untuk membentuk vaksin.

Namun Hasanuddin menegaskan bahwa izin tersebut akan dicabut saat Indonesia sudah mulai kedatangan vaksin mereka lain yang hasil kajiannya halal dan suci. Tripsin bukan bahan baku utama virus, melainkan bahan yang digunakan untuk memisahkan sel inang virus dengan micro carier virus. Meski demikian MUI menyatakan vaksin AstraZeneca mubah untuk digunakan atau dibolehkan karena dalam kondisi darurat pandemi Covid-19.

Tanggal 17 Maret fatwa itu diserahkan pada pemerintah untuk dijadikan panduan. Lalu Jumat 19 Maret 2021 dijelaskan pada publik mengenai fatwa tersebut. Sebelumnya, MHRA mengumumkan hasil peninjauan mereka terhadap beberapa kejadian tromboembolik di antara lebih dari 11 juta orang yang menerima Vaksin COVID-19 AstraZeneca di Inggris. Regulator Inggris mengonfirmasi bahwa manfaat vaksin AstraZeneca jauh lebih bermanfaat untuk menangkal Covid-19.

Sebelum memutuskan fatwa ini, MUI telah mengundang Kementerian Kesehatan, Badan Pengawas Obat dan Makanan , produsen AstraZeneca, hingga pihak Bio Farma untuk mendapat masukan. Sebagaimana dijelaskan sebelumnya, vaksin AstraZeneca dibuat dengan komponen virus yang dipindahkan ke adenovirus. Ahmad bilang bakteri itu membutuhkan media untuk tumbuh, salah satunya menggunakan protein. Tetapi protein terlalu besar untuk bisa digunakan oleh bakteri, karenanya digunakanlah tripsin dari babi. Ahmad menjelaskan bahwa umumnya enzim tripsin diperoleh dari pankreas babi, tetapi dalam perkembangannya dibuat pula tripsin rekombinan. Tripsin rekombinan diperoleh dari sel yang telah disisipkan gen tripsin, bisa dari gen babi atau gen fusarium .