Benarkah Vaksin Corona Halal Di Indonesia? Berikut Penjelasannya

Ia menegaskan jangan ada lagi keraguan dari masyarakat untuk vaksinasi COVID-19. Vaksin AstraZeneca ini juga telah disetujui di lebih dari 70 negara di seluruh dunia termasuk Arab Saudi, UEA, Kuwait, Bahrain, Oman, Mesir, Aljazair dan Maroko dan banyak Dewan Islam di seluruh dunia telah menyatakan sikap bahwa vaksin ini diperbolehkan untuk digunakan. Menurutnya, vaksin Covid-19 bisa dipertanggungjawabkan secara keilmuan, keimanan dan secara intelektual. Oleh karena itu, dia mengajak masyarakat menolak keburukan pandemi yang sedang terjadi saat ini dengan vaksinasi baik untuk diri sendiri dan orang lain. MUI tak ingin masyarakat bertentangan soal kehalalan vaksin dan ilmu pengetahuan.

”Saya sudah konfirmasi ulang ke pihak AstraZeneca dan ternyata mereka tidak melibatkan tripsin dalam proses pemisahan. ”Hal ini adalah kewajiban bersama sebagai warga negara Indonesia,” jelas Marzuki dalam pernyataan tersebut. Ketua MUI Cholil Nafis mengatakan, setelah mereka mengumumkan fatwa vaksin AstraZeneca, banyak warga yang menanyakan soal hukumnya. Itulah istilah fikih Islam bahwa halal itu beda dengan istilah boleh,” katanya.

Di luar semua itu, berbagai pertimbangan terkait vaksin untuk masyarakat di tanah air pun diharapkan dipilih dari kategori yang memang benar-benar aman, halal, dan suci. Akibatnya, Pemerintah negara-negara dunia, termasuk Indonesia tidak memiliki keleluasaan untuk memilih sejumlah vaksin halal dan suci sejumlah yang dibutuhkan. Selain itu, hasil analisis terhadap efikasi vaksin CoronaVac dari uji klinik di Bandung menunjukkan efikasi vaksin sebesar sixty five,3%, dan berdasarkan laporan dari efikasi vaksin di Turki adalah sebesar ninety one,25%, serta di Brazil sebesar 78%. Hasil tersebut telah memenuhi persyaratan WHO dengan minimal efikasi vaksin adalah 50%. “Efikasi vaksin sebesar sixty five,3% dari hasil uji klinik di Bandung tersebut menunjukkan harapan bahwa vaksin ini mampu untuk menurunkan kejadian penyakit COVID-19 hingga 65,3%,” ujar Kepala Badan POM.

“Komunikasi publik mengenai status halal, harga, kualitas dan distribusinya harus disiapkan dengan baik,” ungkap Presiden Indonesia Joko Widodo belum lama ini. Juru bicara Pfizer, Moderna dan AstraZeneca menyatakan, produk babi tidak ada dalam vaksin COVID-19 buatan mereka. Tetapi karena jumlah pasokannya terbatas dan sudah ada kesepakatan pembelian sebelumnya bernilai jutaan dolar AS dengan sejumlah negara, itu artinya pasokan vaksin dari ketiga perusahaan akan dilakukan lebih lambat. Konsekuensinya, beberapa negara dengan populasi muslim yang besar, mungkin akan mendapat vaksin yang belum bersertifikat bebas gelatin. Vaksin berasal dari vektor virus yang memicu jawaban imunitas perlindungan tubuh. Disebutkan pemberian satu dosis vaksin mencukupi untuk mengembangkan antibodi pencegah Covid-19.Juga penyimpanan vaksin relatif mudah pada kulkas yang lazim.

Apakah vaksin covid halal

Kementerian Kesehatan selaku pelaksana program vaksinasi nasional akan mulai distribusi vaksin AstraZeneca paling lambat senin minggu depan agar segera kita dapat mempercepat program vaksinasi. “Jadi, tidak ada alasan masyarakat untuk ragu-ragu mengikuti program vaksinasi,” tegasnya. Juru Bicara Vaksinasi COVID-19 Badan POM Lucia Rizka Andalusia mengatakan efikasi vaksin dengan 2 dosis standar yang dihitung sejak 15 hari pemberian dosis kedua hingga pemantauan sekitar 2 bulan menunjukkan efikasi sebesar sixty two,1%. Hasil ini sudah sesuai dengan persyaratan efikasi untuk penerimaan emergency use authorization yang ditetapkan oleh WHO yaitu minimal 50%. Majelis Ulama Indonesia telah resmi menetapkan fatwa dibolehkan menggunakan vaksin AstraZeneca untuk vaksinasi COVID-19.

Namun sampai saat ini masih ada sejumlah masyarakat yang ragu untuk mendapatkan vaksinasi karena faktor kehalalan. “Kriteria ketiga, obat memiliki mutu yang memenuhi standar yang berlaku serta dan Cara Pembuatan Obat yang Baik. Berbagai upaya Pemerintah telah dan akan terus dilakukan untuk percepatan penanganan pandemi COVID-19 ini. Salah satu upaya pemerintah yang saat ini akan segera digulirkan adalah program vaksinasi COVID-19. Vaksin COVID-19 diharapkan menjadi penentu dalam mengatasi pandemi COVID-19 ini, dan seluruh negara di dunia sedang melakukan upaya yang sama.

Di sisi lain, permintaan sertifikasi halal untuk produk dan perusahaan disebut telah mengalami peningkatan. Berdasarkan information tahun 2018 sampai 2020, tercatat jumlah produk bersertifikasi halal di MUI Pusat meningkat. Pendapat Al Sheikh itu didukung oleh pemberi sertifikat halal World Halal Authority . CEO WHA, Dr Mohamed Elkafrawy, mengatakan bahwa dari perspektif halal, mereka sangat yakin jika prosedur sertifikasi halal yang menyeluruh harus diadopsi oleh inovator vaksin Covid-19 saat ini dan di masa depan, guna memenuhi harapan dan preferensi umat Islam secara luas. Sekretaris Jenderal SMIIC, Ihsan Ovut, dalam pesan e-mail ke Salaam Gateway, mengatakan tidak ada standar khusus yang dikembangkan mengenai kehalalan vaksin Covid-19. Akan tetapi, proyek TC sixteen yang sedang berlanjut, Persyaratan Umum Obat-obatan Halal OKI/SMIIC WD 50 akan menentukan persyaratan dasar dalam pembuatan dan penangananan obat-obatan halal yang meliputi obat-obatan, vaksin, dan produk biologi, berdasarkan aturan Islam.

Sinovac disuntikkan pada penerima dalam dua dosis dengan rentang waktu 14 sampai 29 hari. Hal tersebut sudah dikonfirmasi Badan Otoritas Produk Obat dan Kesehatan Inggris yang menegaskan, semua tahapan produksi vaksin AstraZeneca tidak ada satupun yang memanfaatkan produk turunan babi. Namun belakangan, pihak AstraZeneca membantah vaksin Corona mereka mengandung unsur babi.